Minggu, 30 Januari 2011

The Valerè House 3

       “Jadi kau memberi Ken darahmu?” tanya Monsieur Percevel.
Aku mengangguk.
      “Lukamu akan segera sembuh Ken. Berterimakasihlah pada Rosie.” Monsieur Percevel memandang Ken penuh makna. “Boleh aku meminjam belatimu Rose?” ucapnya kemudian.
      Aku mengambil belati yang kuselipkan di jaket dan mengangsurkannya pada Monsieur Percevel.
      “Memang Belati milik Janet,” ucapnya. Ken melirik belati itu penuh minat.

The Valerè House 2

       Kami memasuki pekarangan sebuah rumah kuno. Aku kecewa, rumah vampir itu tidak seperti yang kubayangkan. Dua topiary berbentuk angsa mengapit sebuah kolam kecil. Bunga-bunga Lily rapi dalam pot-pot.
      "Bonsoir mon fils," kata sebuah suara dibelakang kami. Aku berbalik. Seorang pria dengan setelan rapi duduk disebuah kursi taman.
      "Selamat malam juga ayah," kata Ken.
      "Apa yang terjadi padamu?" tiba-tiba pria itu telah berdiri didepan kami.
      "Aku terluka," kata Ken seraya menunjukkan lukanya.
      "Apa manusia ini yang melakukannya?" mata biru pria itu menatapku. Lalu dengan gerakan tak terlihat dia mengambil belati yang kuselipkan di jaketku.

The Valerè House 1

       Sudah selayaknya Ken bersyukur karena aku bukanlah penembak yang baik. Peluru itu meleset beberapa mili dari jantungnya. Tapi luka akibat perak akan tetap meninggalkan bekas ditubuh vampir. Hal itu mengingatkanku pada Alex. Aku melukai wajahnya dengan belati perak. Dia akan membenciku seumur hidupnya. Tidak, dia akan membenciku selamanya. Sekarang dia makhluk abadi kan? Tapi aku tetap tidak yakin bila dia benar-benar Alex.
      "Ken, apa benar tadi itu Alex?" tanyaku.
      "Tentu saja," jawabnya. Dia bersandar di dinding dan memegangi lukanya.
      "Tapi dia..."
      "Vampir?" sela Ken.

Pertemuan 5

       Aku duduk disebuah kursi taman. Arlojiku menunjukkan pukul 15.00. Aku berdiri dan membiarkan burung-burung mematuki sisa makananku. Kuharap makhluk itu belum terbangun saat aku kembali.

***
      Aku mendengar suara gaduh saat kembali ke saluran air bawah tanah. Aku mempercepat langkah. Sesuatu dalam perutku bergolak saat aku melihat Ken menggenggam seekor tikus. Darah menetes dari tepi bibirnya. Ia membuang jasad binatang itu begitu menyadari kehadiranku.
      "Aku tidak ingin kau melihat itu," kata Ken seraya mengusap darah di bibirnya.
      "Sejujurnya aku juga tidak ingin melihat itu." Aku merapatkan jaketku. "Apa tikus itu akan menjadi vampir? Atau zombie?" tanyaku.

Pertemuan 4

       Sudah dua hari aku bersembunyi di saluran air kotor ini. Ken terus mengawasiku. Dia memperhatikan setiap gerakanku dengan penuh selidik. Pada suatu siang, ia terlelap setelah aku berpura-pura tidur. Tubuhnya bergerak seiring napasnya yang mulai teratur.
      Aku harus pergi. Dia tidak akan bisa mencariku, setidaknya sampai matahari terbenam. Aku beranjak meninggalkan saluran air itu dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku merancang berbagai rencana untuk pergi keluar kota. Keluar pulau lebih baik.
      Keadaan rumah masih sama seperti saat terakhir kutinggalkan. Barang-barang tidak berada ditempat semestinya. Pecahan-pecahan vas berhamburan di lantai. Bercak darah di sekitar sofa telah mengering. Kenangan dua hari yang lalu tiba-tiba memenuhi kepalaku. Alex dengan leher patah dan kepala bercucuran darah. Mati.

Pertemuan 3

       Aku mengarahkan belati perak tepat ke dada kirinya.
      "Aku akan membunuhmu vampir!"Matanya membelalak, tapi itu bukan ekspresi ketakutan. Ia terkejut, terkejut mendengar ucapanku.
      "Tenanglah Rose!" ucapnya lembut.
      "JANGAN SEBUT NAMAKU!" teriakku.
      "Kalau begitu, bunuhlah!"
      "Memang itu yang akan kulakukan." Ujung belatiku menyentuh kulitnya dan menimbulkan suara berdesis.
Dia meringis. "Lakukan dengan cepat. Itu sangat tidak berperikemanusiaan"
      "Kau bukan manusia," ucapku lirih.

Pertemuan 2

       Aku memasuki pekarangan rumah dengan napas terengah. Tak satupun lampu dalam rumah menyala. Aku mengetuk pintu. "Ayah?! Rafi?!" panggilku. Tak ada jawaban dari dalam. Aku memutar gagang pintu yang tidak terkunci. Aku menyalakan lampu dan mendapati ruangan itu berantakan.

       Vas bunga pecah dan berserakan. Meja dan sofa terbalik. Lemari perabot bergeser dari tempat semestinya berada. Aku mengeluarkan ponsel dan menelpon Alex.
       “Halo,” kata suara diseberang sambungan.
       “Alex, tolong aku. Ada sesuatu yang tidak beres. Kau harus datang ke rumahku.”

Pertemuan 1

        Kegelapan terasa begitu pekat. Terdengar suara burung hantu dari kejauhan. Jantungku berdetak begitu kencang. Keringat dingin membasahi dahi dan telapak tanganku. Sesekali aku menoleh kebelakang, berharap tidak ada siapapun yang membuntutiku. Namun jubah hitam itu masih tampak di kejauhan.
        Aku mempercepat langkah. Udara malam yang kuhirup terasa begitu menusuk paru-paru. Aku kembali menoleh kebelakang, tak lagi kutangkap sosok berjubah hitam itu. Aku menghela napas dan terus berjalan. Tiba-tiba orang itu telah berada lima puluh meter didepanku. Ia berdiri ditengah persimpangan jalan Abimanyu dan jalan Proklamasi. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan kerudung jubah itu.