Sudah dua hari aku bersembunyi di saluran air kotor ini. Ken terus mengawasiku. Dia memperhatikan setiap gerakanku dengan penuh selidik. Pada suatu siang, ia terlelap setelah aku berpura-pura tidur. Tubuhnya bergerak seiring napasnya yang mulai teratur.
Aku harus pergi. Dia tidak akan bisa mencariku, setidaknya sampai matahari terbenam. Aku beranjak meninggalkan saluran air itu dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku merancang berbagai rencana untuk pergi keluar kota. Keluar pulau lebih baik.
Keadaan rumah masih sama seperti saat terakhir kutinggalkan. Barang-barang tidak berada ditempat semestinya. Pecahan-pecahan vas berhamburan di lantai. Bercak darah di sekitar sofa telah mengering. Kenangan dua hari yang lalu tiba-tiba memenuhi kepalaku. Alex dengan leher patah dan kepala bercucuran darah. Mati.
Aku memalingkan wajah dan berjalan ke kamarku. Aku harus mandi. Aku akan naik kereta ke Surabaya untuk kemudian terbang ke Makassar.
***
Seseorang mengikutiku saat aku berjalan menuju halte. Ken? Apa dia Ken? Tapi bagaimana mungkin? Di siang hari? Aku berhenti melangkah dan menoleh kebelakang. Sekelebat bayangan hitam bersembunyi di belakang sebuah bangunan. Aku mempercepat langkah. Penguntit itu terus mengikutiku. Aku berlari. Kemana aku harus pergi?
Kantor polisi. Ya, aku harus ke kantor polisi. Setidaknya mereka punya senjata.
Aku menabrak seseorang yang berdiri tepat di depanku. Aku terjatuh kebelakang. Orang itu berjongkok dan memegang bahuku. Tidak, tidak...
Aku mendongak. "Alex?" kataku. Orang itu tersenyum. "Bagaimana... bagaimana bisa?" ucapku terkejut.
"Kau bersama vampir itu?" tanyanya.
"Tadinya begitu," jawabku. Dia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya dan meletakkannya ditanganku. Sebuah pistol.
"Dengan peluru perak," katanya.
"Tidak..." aku menggeleng. "Aku tidak mau bertemu dengan makhluk itu lagi. Aku akan pergi," ujarku seraya menjatuhkan pistol itu seolah benda itu membakar tanganku.
"Aku mengerti Rose. Tapi dia akan tetap mencarimu. Ini satu-satunya jalan."
"Aku sudah mencobanya!" jeritku.
"Cobalah, sekali lagi! Demi diriku, demi hidupmu, demi ayahmu dan Rafi. Hidup kita." Alex kembali meletakkan pistol itu ditanganku.
Minggu, 30 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar