Aku memasuki pekarangan rumah dengan napas terengah. Tak satupun lampu dalam rumah menyala. Aku mengetuk pintu. "Ayah?! Rafi?!" panggilku. Tak ada jawaban dari dalam. Aku memutar gagang pintu yang tidak terkunci. Aku menyalakan lampu dan mendapati ruangan itu berantakan.
Vas bunga pecah dan berserakan. Meja dan sofa terbalik. Lemari perabot bergeser dari tempat semestinya berada. Aku mengeluarkan ponsel dan menelpon Alex.
“Halo,” kata suara diseberang sambungan.
“Alex, tolong aku. Ada sesuatu yang tidak beres. Kau harus datang ke rumahku.”
“Baiklah, tunggu sebentar!” katanya. Lalu sambungan itu terputus.
Aku berlari ke kamarku di lantai atas. Pintu kamar itu berderit protes ketika aku membukanya. Aku menarik laci meja riasku. Sebuah benda berkilau menarik perhatianku: sebuah belati perak. Aku membaca ukiran kata di belati itu dari pangkal ke ujung. “Mereka Kembali Bersama Secangkir Darah”. Aku menyelipkan belati itu dalam jaketku.
Seseorang berdiri diambang pintu kamar ketika aku membalikkan badan, pemuda bermotor yang menolongku tadi.
“Siapa kau? Apa yang... apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.
“Aku Ken Valerè. Kita harus pergi Rose, aku harus membawamu pergi., aku harus melindungimu.” Dia menarik pergelangan tanganku.
“Kau tidak akan membawanya kemana-mana,” kata Alex yang tiba-tiba berada disana. Dia memegangi pergelangan tangan Ken.
Ken menggeram pada Alex. Sekilas kilauan tajam terlihat dalam mulutnya. Ken menghempaskan Alex hingga dia jatuh berguling dari lantai atas.
Aku memekik. Ken turun dengan cepat dan tiba-tiba telah berada di lantai bawah. Lalu lebih banyak suara benda pecah terdengar. Aku turun menyusul mereka.
Ken menyeringai memamerkan taring-taringnya. Ia berlari dengan cepat kearah Alex.
Alex melempar tubuh Ken ke dinding. Dinding itu bergetar membuat figura yang tergantung disana jatuh dan pecah.
Aku memandang Alex setengah tidak percaya. Lebih dari 8 tahun aku bersahabat dengannya, rupanya aku belum mengenal dia yang sebenarnya. Alex yang kukenal tidak akan melakukan hal seperti ini.
Alex tertegun melihat ekspresiku. Ia terdiam.
Tiba-tiba Ken bangkit dan menerjang tubuh Alex. Ia menancapkan taring dilehernya dan mematahkannya.
Alex tergeletak di lantai dengan leher yang bercucuran darah. Tatapan matanya kosong. Aku menjerit.
Minggu, 30 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar