Aku membuka mata dan mendapati diriku disebuah ruangan. Aku masih hidup, tidak terluka, dan masih manusia. Aku merasakan jantungku berdetak dalam rongga dada, merasakan pembuluh-pembuluh darahku berdesir. Apa tadi itu, mimpi?
Aku menarik selimut hingga menutupi hidungku, melirik sekeliling. Ini kamarku, kamar yang kugunakan dirumah keluarga Valerè. Ken, mungkin dia yang membawaku kesini saat aku tertidur.
Aku bangkit dari tidurku dan berjalan ke meja rias, menatap bayanganku dicermin. Bayanganku, ya itu aku, tidak berubah, berambut hitam sebahu dengan mata kelabu. Ada sesuatu yang berbeda, dahiku kini dihiasi benjolan membiru. Bayangan itu tersenyum geli, aku tersenyum geli.
Minggu, 06 Februari 2011
Mata Kelabu 3
Diposting oleh
ucie_eka
di
22.59
Aku duduk di rerumputan, merasakan rumput-rumput itu menggelitik telapak kakiku, menggenggam sebuah apel dan memandang Ken dari sudut mata.
Ken tengah duduk disampingku, berdiam diri. Sejenak aku biarkan ia berkutat seorang diri dalam ruang-ruang pikirannya. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Ken," panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Aku memain-mainkan apel pemberian Ken.
"Tidak ada."
"Aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku. Kepalaku terasa begitu berat, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan rahasia pembalikan.
Ken tengah duduk disampingku, berdiam diri. Sejenak aku biarkan ia berkutat seorang diri dalam ruang-ruang pikirannya. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Ken," panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Aku memain-mainkan apel pemberian Ken.
"Tidak ada."
"Aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku. Kepalaku terasa begitu berat, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan rahasia pembalikan.
Mata Kelabu 2
Diposting oleh
ucie_eka
di
22.58
Titik-titik embun menempel pada kelopak-kelopak Daisy dan daun-daun Cemara, udara menyeruakkan bau pagi yang terkecap di lidah. Aku memerlukan waktu untuk sendiri, untuk memikirkan peristiwa yang telah kulalui dan berusaha untuk mempercayai bahwa itu benar-benar terjadi. Bayangan Alex seolah tidak rela membiarkan rongga-rongga kepalaku kosong, ia selalu hadir dan memenuhinya, Alex tertawa, Alex meringis, Alex dengan wajah berdarah, dan rasa di jari-jariku saat menyentuh bekas lukanya.
Belakangan, bayangan ayah dan Rafi pun tak mau ketinggalan, mereka bertiga menyesaki rongga kepalaku, membuatku merasa bersalah dan mual. Lalu, bayangan mereka memudar dan digantikan bayangan Abelard, namun bayangan Abelard tidaklah terlihat sebagai sosok manusia, hanya sebersit rasa benci, kengerian, dan kewajiban yang membebani.
Belakangan, bayangan ayah dan Rafi pun tak mau ketinggalan, mereka bertiga menyesaki rongga kepalaku, membuatku merasa bersalah dan mual. Lalu, bayangan mereka memudar dan digantikan bayangan Abelard, namun bayangan Abelard tidaklah terlihat sebagai sosok manusia, hanya sebersit rasa benci, kengerian, dan kewajiban yang membebani.
Mata Kelabu 1
Diposting oleh
ucie_eka
di
22.56
Ruang tamu itu dipenuhi para Valerè, duduk mengitari sebuah meja panjang berukiran rumit. Lukisan-lukisan tetua vampir Eropa berjajar di dinding, mata mereka memandang meja panjang, mengintimidasi. Monsieur Percevel mengamati cawan perak Leon, wajah vampirnya yang sempurna lebih tampak seperti pahatan ketika tak bergerak.
"Ada yang ingin berbicara tentang ini?" tanya Monsieur Percevel. Aku mengangkat tangan dan segera merasa bodoh karena itu. Para Valerè menatapku, Monsieur Percevel mengangguk.
"Ada yang ingin berbicara tentang ini?" tanya Monsieur Percevel. Aku mengangkat tangan dan segera merasa bodoh karena itu. Para Valerè menatapku, Monsieur Percevel mengangguk.
Selasa, 01 Februari 2011
Keluarga 2
Diposting oleh
ucie_eka
di
00.41
"Tidak Al, kau tidak mengerti," kataku.
"Kau yang tidak mengerti Rose!" suara Alex meninggi.
"Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan." Aku menggertakkan gigi.
"Aku sangat mengerti Rose, mereka ingin menghancurkan kita, menghancurkan keluarga kita." Ia membelai rambutku.
"Aku ingin menyelamatkanmu. Kau tidak perlu menjadi seperti ini," kataku.
"Mereka telah meracuni pikiranmu Rose. Kau tidak perlu menyelamatkanku, aku tidak berada dalam bahaya, ini yang kuinginkan. Aku memiliki keluarga Rose! Tahukah kau betapa itu sangat berarti bagiku? Aku memiliki ayah, dan memilikimu sebagai adikku." Mata kelabunya menatapku penuh kasih sayang.
"Kau yang tidak mengerti Rose!" suara Alex meninggi.
"Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan." Aku menggertakkan gigi.
"Aku sangat mengerti Rose, mereka ingin menghancurkan kita, menghancurkan keluarga kita." Ia membelai rambutku.
"Aku ingin menyelamatkanmu. Kau tidak perlu menjadi seperti ini," kataku.
"Mereka telah meracuni pikiranmu Rose. Kau tidak perlu menyelamatkanku, aku tidak berada dalam bahaya, ini yang kuinginkan. Aku memiliki keluarga Rose! Tahukah kau betapa itu sangat berarti bagiku? Aku memiliki ayah, dan memilikimu sebagai adikku." Mata kelabunya menatapku penuh kasih sayang.
Keluarga 1
Diposting oleh
ucie_eka
di
00.38
Perjalanan kembali ini sangat melelahkan. Ken tidak mungkin menggendong kami berdua, jadi kami terpaksa berjalan kaki. Hari sudah mulai malam dan aku sudah sangat kelelahan, begitu pula Leon. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan mendirikan tenda di tengah hutan.
Malam begitu gelap dan mencekam. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengkuran paman Leon dari dalam tenda. Sudah satu jam Ken pergi berburu, dan aku tidak bisa tidur. Aku meringkuk memeluk lututku, menengadah memandang kanopi-kanopi hitam pepohonan. Dingin sekali. Aku berdiri dan mondar-mandir didepan tenda.
"Rose..." sebuah suara terdengar dari dalam hutan. Apa Ken dalam masalah? Aku berjalan ke sumber suara.
Malam begitu gelap dan mencekam. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengkuran paman Leon dari dalam tenda. Sudah satu jam Ken pergi berburu, dan aku tidak bisa tidur. Aku meringkuk memeluk lututku, menengadah memandang kanopi-kanopi hitam pepohonan. Dingin sekali. Aku berdiri dan mondar-mandir didepan tenda.
"Rose..." sebuah suara terdengar dari dalam hutan. Apa Ken dalam masalah? Aku berjalan ke sumber suara.
Le Sang de Père Est le Sang de Ses Enfants 2
Diposting oleh
ucie_eka
di
00.34
"Aku tidak menyukai orang ini," bisikku pada Ken.
"Kau tidak perlu menyukainya Rose, cukup ingat hal penting yang ia katakan." Ken menegakkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan membawa sebuah cawan perak, ia meletakkan cawan itu di meja.
"Bolehkah aku...?" kataku seraya mendekatkan tangan ke cawan itu.
"Tentu saja." Leon mengangguk.
Aku memperhatikan cawan itu, sebuah kalimat terukir disitu. "Le sang de père est le sang de ses enfants" yang berarti darah ayah adalah darah anak-anaknya. Sebuah kalimat yang ambigu menurutku. "Ini milik Abelard?" tanyaku menyela obrolan Ken dan Leon.
"Kau tidak perlu menyukainya Rose, cukup ingat hal penting yang ia katakan." Ken menegakkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan membawa sebuah cawan perak, ia meletakkan cawan itu di meja.
"Bolehkah aku...?" kataku seraya mendekatkan tangan ke cawan itu.
"Tentu saja." Leon mengangguk.
Aku memperhatikan cawan itu, sebuah kalimat terukir disitu. "Le sang de père est le sang de ses enfants" yang berarti darah ayah adalah darah anak-anaknya. Sebuah kalimat yang ambigu menurutku. "Ini milik Abelard?" tanyaku menyela obrolan Ken dan Leon.
Le Sang de Père Est le Sang de Ses Enfants 1
Diposting oleh
ucie_eka
di
00.33
Semua yang kulihat berwarna hijau. Pohon-pohon tumbuh berdekatan, batu-batu ditumbuhi lumut. Aku mencengkram bahu Ken, berusaha tidak jatuh saat ia berlari melompat-lompat dalam hutan.
Seekor rusa menegakkan telinga saat mendengar suara kami. Rusa itu berlari ketika tiba-tiba Ken melompat di depannya.
"Kita sudah hampir sampai," kata Ken.
"Kau bisa menurunkanku sekarang?" tanyaku.
Ken menurunkanku dari punggungnya.
Tak lama kami berjalan, tampak sebuah cottage dengan cat yang telah memudar, kayu-kayu bakar bertumpuk disisi kirinya. Bunga-bunga Dandelion tumbuh liar disekeliling pondok, biji-bijinya yang telah mengering berterbangan ditiup angin, tampak seperti paralayang yang terayun-ayun di udara.
Seekor rusa menegakkan telinga saat mendengar suara kami. Rusa itu berlari ketika tiba-tiba Ken melompat di depannya.
"Kita sudah hampir sampai," kata Ken.
"Kau bisa menurunkanku sekarang?" tanyaku.
Ken menurunkanku dari punggungnya.
Tak lama kami berjalan, tampak sebuah cottage dengan cat yang telah memudar, kayu-kayu bakar bertumpuk disisi kirinya. Bunga-bunga Dandelion tumbuh liar disekeliling pondok, biji-bijinya yang telah mengering berterbangan ditiup angin, tampak seperti paralayang yang terayun-ayun di udara.
Minggu, 30 Januari 2011
The Valerè House 3
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.46
“Jadi kau memberi Ken darahmu?” tanya Monsieur Percevel.Aku mengangguk.
“Lukamu akan segera sembuh Ken. Berterimakasihlah pada Rosie.” Monsieur Percevel memandang Ken penuh makna. “Boleh aku meminjam belatimu Rose?” ucapnya kemudian.
Aku mengambil belati yang kuselipkan di jaket dan mengangsurkannya pada Monsieur Percevel.
“Memang Belati milik Janet,” ucapnya. Ken melirik belati itu penuh minat.
The Valerè House 2
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.45
Kami memasuki pekarangan sebuah rumah kuno. Aku kecewa, rumah vampir itu tidak seperti yang kubayangkan. Dua topiary berbentuk angsa mengapit sebuah kolam kecil. Bunga-bunga Lily rapi dalam pot-pot.
"Bonsoir mon fils," kata sebuah suara dibelakang kami. Aku berbalik. Seorang pria dengan setelan rapi duduk disebuah kursi taman.
"Selamat malam juga ayah," kata Ken.
"Apa yang terjadi padamu?" tiba-tiba pria itu telah berdiri didepan kami.
"Aku terluka," kata Ken seraya menunjukkan lukanya.
"Apa manusia ini yang melakukannya?" mata biru pria itu menatapku. Lalu dengan gerakan tak terlihat dia mengambil belati yang kuselipkan di jaketku.
"Bonsoir mon fils," kata sebuah suara dibelakang kami. Aku berbalik. Seorang pria dengan setelan rapi duduk disebuah kursi taman.
"Selamat malam juga ayah," kata Ken.
"Apa yang terjadi padamu?" tiba-tiba pria itu telah berdiri didepan kami.
"Aku terluka," kata Ken seraya menunjukkan lukanya.
"Apa manusia ini yang melakukannya?" mata biru pria itu menatapku. Lalu dengan gerakan tak terlihat dia mengambil belati yang kuselipkan di jaketku.
The Valerè House 1
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.44
Sudah selayaknya Ken bersyukur karena aku bukanlah penembak yang baik. Peluru itu meleset beberapa mili dari jantungnya. Tapi luka akibat perak akan tetap meninggalkan bekas ditubuh vampir. Hal itu mengingatkanku pada Alex. Aku melukai wajahnya dengan belati perak. Dia akan membenciku seumur hidupnya. Tidak, dia akan membenciku selamanya. Sekarang dia makhluk abadi kan? Tapi aku tetap tidak yakin bila dia benar-benar Alex.
"Ken, apa benar tadi itu Alex?" tanyaku.
"Tentu saja," jawabnya. Dia bersandar di dinding dan memegangi lukanya.
"Tapi dia..."
"Vampir?" sela Ken.
"Ken, apa benar tadi itu Alex?" tanyaku.
"Tentu saja," jawabnya. Dia bersandar di dinding dan memegangi lukanya.
"Tapi dia..."
"Vampir?" sela Ken.
Pertemuan 5
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.42
Aku duduk disebuah kursi taman. Arlojiku menunjukkan pukul 15.00. Aku berdiri dan membiarkan burung-burung mematuki sisa makananku. Kuharap makhluk itu belum terbangun saat aku kembali.
***
Aku mendengar suara gaduh saat kembali ke saluran air bawah tanah. Aku mempercepat langkah. Sesuatu dalam perutku bergolak saat aku melihat Ken menggenggam seekor tikus. Darah menetes dari tepi bibirnya. Ia membuang jasad binatang itu begitu menyadari kehadiranku.
"Aku tidak ingin kau melihat itu," kata Ken seraya mengusap darah di bibirnya.
"Sejujurnya aku juga tidak ingin melihat itu." Aku merapatkan jaketku. "Apa tikus itu akan menjadi vampir? Atau zombie?" tanyaku.
***
Aku mendengar suara gaduh saat kembali ke saluran air bawah tanah. Aku mempercepat langkah. Sesuatu dalam perutku bergolak saat aku melihat Ken menggenggam seekor tikus. Darah menetes dari tepi bibirnya. Ia membuang jasad binatang itu begitu menyadari kehadiranku.
"Aku tidak ingin kau melihat itu," kata Ken seraya mengusap darah di bibirnya.
"Sejujurnya aku juga tidak ingin melihat itu." Aku merapatkan jaketku. "Apa tikus itu akan menjadi vampir? Atau zombie?" tanyaku.
Pertemuan 4
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.42
Sudah dua hari aku bersembunyi di saluran air kotor ini. Ken terus mengawasiku. Dia memperhatikan setiap gerakanku dengan penuh selidik. Pada suatu siang, ia terlelap setelah aku berpura-pura tidur. Tubuhnya bergerak seiring napasnya yang mulai teratur.
Aku harus pergi. Dia tidak akan bisa mencariku, setidaknya sampai matahari terbenam. Aku beranjak meninggalkan saluran air itu dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku merancang berbagai rencana untuk pergi keluar kota. Keluar pulau lebih baik.
Keadaan rumah masih sama seperti saat terakhir kutinggalkan. Barang-barang tidak berada ditempat semestinya. Pecahan-pecahan vas berhamburan di lantai. Bercak darah di sekitar sofa telah mengering. Kenangan dua hari yang lalu tiba-tiba memenuhi kepalaku. Alex dengan leher patah dan kepala bercucuran darah. Mati.
Aku harus pergi. Dia tidak akan bisa mencariku, setidaknya sampai matahari terbenam. Aku beranjak meninggalkan saluran air itu dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku merancang berbagai rencana untuk pergi keluar kota. Keluar pulau lebih baik.
Keadaan rumah masih sama seperti saat terakhir kutinggalkan. Barang-barang tidak berada ditempat semestinya. Pecahan-pecahan vas berhamburan di lantai. Bercak darah di sekitar sofa telah mengering. Kenangan dua hari yang lalu tiba-tiba memenuhi kepalaku. Alex dengan leher patah dan kepala bercucuran darah. Mati.
Pertemuan 3
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.41
Aku mengarahkan belati perak tepat ke dada kirinya."Aku akan membunuhmu vampir!"Matanya membelalak, tapi itu bukan ekspresi ketakutan. Ia terkejut, terkejut mendengar ucapanku.
"Tenanglah Rose!" ucapnya lembut.
"JANGAN SEBUT NAMAKU!" teriakku.
"Kalau begitu, bunuhlah!"
"Memang itu yang akan kulakukan." Ujung belatiku menyentuh kulitnya dan menimbulkan suara berdesis.
Dia meringis. "Lakukan dengan cepat. Itu sangat tidak berperikemanusiaan"
"Kau bukan manusia," ucapku lirih.
Pertemuan 2
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.40
Aku memasuki pekarangan rumah dengan napas terengah. Tak satupun lampu dalam rumah menyala. Aku mengetuk pintu. "Ayah?! Rafi?!" panggilku. Tak ada jawaban dari dalam. Aku memutar gagang pintu yang tidak terkunci. Aku menyalakan lampu dan mendapati ruangan itu berantakan.
Vas bunga pecah dan berserakan. Meja dan sofa terbalik. Lemari perabot bergeser dari tempat semestinya berada. Aku mengeluarkan ponsel dan menelpon Alex.
“Halo,” kata suara diseberang sambungan.
“Alex, tolong aku. Ada sesuatu yang tidak beres. Kau harus datang ke rumahku.”
Vas bunga pecah dan berserakan. Meja dan sofa terbalik. Lemari perabot bergeser dari tempat semestinya berada. Aku mengeluarkan ponsel dan menelpon Alex.
“Halo,” kata suara diseberang sambungan.
“Alex, tolong aku. Ada sesuatu yang tidak beres. Kau harus datang ke rumahku.”
Pertemuan 1
Diposting oleh
ucie_eka
di
20.40
Kegelapan terasa begitu pekat. Terdengar suara burung hantu dari kejauhan. Jantungku berdetak begitu kencang. Keringat dingin membasahi dahi dan telapak tanganku. Sesekali aku menoleh kebelakang, berharap tidak ada siapapun yang membuntutiku. Namun jubah hitam itu masih tampak di kejauhan.Aku mempercepat langkah. Udara malam yang kuhirup terasa begitu menusuk paru-paru. Aku kembali menoleh kebelakang, tak lagi kutangkap sosok berjubah hitam itu. Aku menghela napas dan terus berjalan. Tiba-tiba orang itu telah berada lima puluh meter didepanku. Ia berdiri ditengah persimpangan jalan Abimanyu dan jalan Proklamasi. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan kerudung jubah itu.
Langganan:
Postingan (Atom)






