Minggu, 30 Januari 2011

The Valerè House 1

       Sudah selayaknya Ken bersyukur karena aku bukanlah penembak yang baik. Peluru itu meleset beberapa mili dari jantungnya. Tapi luka akibat perak akan tetap meninggalkan bekas ditubuh vampir. Hal itu mengingatkanku pada Alex. Aku melukai wajahnya dengan belati perak. Dia akan membenciku seumur hidupnya. Tidak, dia akan membenciku selamanya. Sekarang dia makhluk abadi kan? Tapi aku tetap tidak yakin bila dia benar-benar Alex.
      "Ken, apa benar tadi itu Alex?" tanyaku.
      "Tentu saja," jawabnya. Dia bersandar di dinding dan memegangi lukanya.
      "Tapi dia..."
      "Vampir?" sela Ken.

      "Apa ada vampir menggigitnya? Maksudku apa dia terkena bisa vampir?" tanyaku.
      "Tidak Rose. Vampir tidak punya pilihan. Tapi Alex memilih, dia memilih menjadi vampir. Tidak ada vampir yang mengigitnya."
      "Dia bilang, aku sama sepertinya." Aku menyentuh dadaku. Bahagia mengetahui jantungku berdetak.
      "Ya, kau sama sepertinya," katanya.
      "Apa maksudmu?"
      "Alex setengah vampir. Begitu juga denganmu," kata Ken. Aku terhenyak. "Ayah biologismu dan ayah biologis Alex adalah vampir yang sama: Abelard Valerè. Kau dan Alex adalah saudara seayah. Dan ayahmu, ayah biologismu menginginkanmu. Dia menginginkan darahmu. Darah setengah vampir bisa membuat vampir yang meminumnya lebih kuat." lanjutnya.
      "Jadi itu sebabnya Alex tahan terhadap matahari. Karena dia memiliki unsur manusia. Tapi kenapa dia masih hidup jika Valerè menginginkan darahnya?" tanyaku.
Ken berjengit. "Panggil dia Abelard." katanya.
      "Ok, kenapa Alex masih hidup jika Abelard menginginkan darahnya?" kataku.
      "Abelard tidak menginginkan darahnya. Dia menginginkan kekuatannya. Dia butuh prajurit."
      "Prajurit? Maksudmu masih banyak lagi yang setengah vampir?" tanyaku.
      "Tepatnya bukan setengah vampir. Tapi setengah vampir yang memilih menjadi vampir. Dan ya, mereka banyak." kata Ken. Dia bangkit dari duduknya.
      "Kau mau kemana?" tanyaku. Aku memegangi tubuhnya. Tapi sepertinya itu tidak perlu.
      "Matahari sudah terbenam. Aku harus ketempat ayah, dia bisa mengatasi lukaku."
      "Ayah? Maksudmu ayahku? Maksudmu Abelard?" Aku bergidik.
      "Tentu saja tidak Rose, tapi ketempat ayahku." katanya seraya mengangkat tubuhku.
      "Aku bisa jalan sendiri Ken! Kau terluka!" kataku.
      "Tidak, kau akan memperlambat kita."

0 komentar:

Posting Komentar