Minggu, 30 Januari 2011

Pertemuan 5

       Aku duduk disebuah kursi taman. Arlojiku menunjukkan pukul 15.00. Aku berdiri dan membiarkan burung-burung mematuki sisa makananku. Kuharap makhluk itu belum terbangun saat aku kembali.

***
      Aku mendengar suara gaduh saat kembali ke saluran air bawah tanah. Aku mempercepat langkah. Sesuatu dalam perutku bergolak saat aku melihat Ken menggenggam seekor tikus. Darah menetes dari tepi bibirnya. Ia membuang jasad binatang itu begitu menyadari kehadiranku.
      "Aku tidak ingin kau melihat itu," kata Ken seraya mengusap darah di bibirnya.
      "Sejujurnya aku juga tidak ingin melihat itu." Aku merapatkan jaketku. "Apa tikus itu akan menjadi vampir? Atau zombie?" tanyaku.

      Ken tergelak. "Tentu saja tidak," jawabnya. Dia menepuk-nepuk lantai disampingnya menyuruhku duduk. Aku duduk disampingnya dan bersandar ke dinding. Aku memasukkan tangan ke saku jaket, menyentuh gagang pistol yg Alex berikan.
      "Kenapa kau pergi?" tanyanya.
      "Kenapa aku pergi? Kenapa aku harus tetap tinggal?" kataku.
      "Baiklah." Dia menghela napas. "Lalu kenapa kau kembali?"
      "Untuk membunuhmu tentunya." kataku.
      Dia kembali tergelak. Lalu suara tawanya berhenti bersama dengan terdengarnya suara tembakan. Ia terjatuh menelungkup. Sebuah lubang terbentuk dari punggung dan tembus kedadanya. Luka itu berdesis.
      "R-rose... Rose..." bisiknya.
Aku menjauh darinya. Tubuhku gemetar.
      "Bagus sekali Rose." Seseorang berbisik dibelakangku. Dia memegangi kedua lenganku yang gemetar hebat.
      "Alex?" kataku.
      "Aku disini Rose," ucapnya. Dia membalik tubuhku dan mendekapku didadanya. "Semua akan baik-baik saja," ucapnya kemudian.
      Aku terhenyak. Aku menekan kepalaku ke dadanya. Mana detak jantung, detak jantungnya? Aku terlonjak mundur.
"Kau bukan Alex!" jeritku.
      "Tentu saja aku Alex. Aku sama sepertimu."
      "Aku tidak seperti kalian!"
      "Kau memang tidak seperti Ken, Rose. Tapi kita sama." Dia mendekat.
      "TIDAAKK!!!" Aku mengeluarkan belati perakku dan mengayunkannya membabi buta. Alex menjerit dan memegangi wajahnya. Darah menetes dari sela jarinya. Dia pergi...

       Aku memandang jasad Ken dengan napas terengah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Barangkali aku harus menguburkannya. Aku membalikkan tubuhnya. Dia mengerang.
       "Ken?" panggilku. Ada secercah kebahagiaan yang tak lazim. Dia masih saja mengerang. Aku mengambil belati dan melukai tanganku. Kuteteskan darahku kemulutnya. Dia menarik pergelangan tanganku dan mereguk darahku.

0 komentar:

Posting Komentar