Kegelapan terasa begitu pekat. Terdengar suara burung hantu dari kejauhan. Jantungku berdetak begitu kencang. Keringat dingin membasahi dahi dan telapak tanganku. Sesekali aku menoleh kebelakang, berharap tidak ada siapapun yang membuntutiku. Namun jubah hitam itu masih tampak di kejauhan.Aku mempercepat langkah. Udara malam yang kuhirup terasa begitu menusuk paru-paru. Aku kembali menoleh kebelakang, tak lagi kutangkap sosok berjubah hitam itu. Aku menghela napas dan terus berjalan. Tiba-tiba orang itu telah berada lima puluh meter didepanku. Ia berdiri ditengah persimpangan jalan Abimanyu dan jalan Proklamasi. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan kerudung jubah itu.
Aku mengentikan langkah, apa yang harus kulakukan? Terus maju atau berbalik arah?
Orang itu mengangkat tangan kanannya. Ia melambai kearahku, menyuruhku mendekat.
Aku menghirup napas panjang, memantapkan hati, dan mulai berjalan maju.
Aku berhenti setelah berjarak dua meter darinya. Ia mendekat lalu menyentuh daguku dengan kukunya yang panjang. Ia mendongakkan wajahku. Aku mengernyit mencium bau napasnya yang begitu dekat.
"Rosaline Valere?" ucapnya lebih seperti mendesis.
Aku menggeleng. "Rosaline Adrian," kata ku.
Tiba-tiba sebuah motor dari arah utara datang dan menabraknya. Ia terpental sejauh seratus meter. Pengendara motor itu turun dan melepas helm-nya. Ia adalah seorang pemuda berkulit pucat, berambut hitam selat dengan bentuk rahang yang tegas.
"Pergilah!" kata pemuda itu sambil memperhatikan sosok berjubah yang kembali mendekat. "LARI!" perintah pemuda itu. Aku mematuhinya dan berlari secepat yang aku bisa.


0 komentar:
Posting Komentar