Perjalanan kembali ini sangat melelahkan. Ken tidak mungkin menggendong kami berdua, jadi kami terpaksa berjalan kaki. Hari sudah mulai malam dan aku sudah sangat kelelahan, begitu pula Leon. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan mendirikan tenda di tengah hutan.
Malam begitu gelap dan mencekam. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengkuran paman Leon dari dalam tenda. Sudah satu jam Ken pergi berburu, dan aku tidak bisa tidur. Aku meringkuk memeluk lututku, menengadah memandang kanopi-kanopi hitam pepohonan. Dingin sekali. Aku berdiri dan mondar-mandir didepan tenda.
"Rose..." sebuah suara terdengar dari dalam hutan. Apa Ken dalam masalah? Aku berjalan ke sumber suara.
"Rose..." suara itu menjauh dan berpindah-pindah. Aku terus mengikuti suara itu dan akhirnya mendapati sosoknya sedang berdiri di sepetak tanah terbuka, terlindung dalam bayang pepohonan.
"Ken? Ada apa?" Aku mendekat.
"Hai adik kecil." Ia berjalan maju. Cahaya rembulan menerpa wajahnya, tampak jelas bekas luka di pipi kirinya.
"Alex?" Aku berjalan kearahnya. Apa itu benar-benar Alex? Ataukah mataku menipuku? Mungkin dia hanya khayalanku, aku membayangkannya seharian. Aku berhenti melangkah tepat didepannya, mengangkat tangan untuk menyentuhnya, begitu hati-hati seolah ia akan memudar setelah kusentuh. Ia memejamkan mata, kulitnya terasa begitu dingin di jemariku. Pelan-pelan kusentuh bekas luka di pipinya. Ia menghentikan gerakan tanganku dan menariknya dari wajahnya. Mataku terasa terbakar, lalu setetes air mata meleleh.
"Maafkan aku." suaraku tak lebih dari sebuah bisikan.
Alex menggeleng, ia menggenggam tanganku erat. "Aku datang untuk menjemputmu Rose. Kita akan pulang, bertemu ayah," ucapnya.
Selasa, 01 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar