"Tidak Al, kau tidak mengerti," kataku.
"Kau yang tidak mengerti Rose!" suara Alex meninggi.
"Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan." Aku menggertakkan gigi.
"Aku sangat mengerti Rose, mereka ingin menghancurkan kita, menghancurkan keluarga kita." Ia membelai rambutku.
"Aku ingin menyelamatkanmu. Kau tidak perlu menjadi seperti ini," kataku.
"Mereka telah meracuni pikiranmu Rose. Kau tidak perlu menyelamatkanku, aku tidak berada dalam bahaya, ini yang kuinginkan. Aku memiliki keluarga Rose! Tahukah kau betapa itu sangat berarti bagiku? Aku memiliki ayah, dan memilikimu sebagai adikku." Mata kelabunya menatapku penuh kasih sayang.
"Kau tidak perlu berubah menjadi apapun. Aku akan tetap menjadi adikmu, kau tak perlu... tak perlu menjadi..." kata terakhirku tak terucap, seolah berhenti ditenggorokan. "Pergilah darinya!" ucapku kemudian.
"Kau menyuruhku menjauhi ayahku sendiri?" Alex terlonjak mundur, menjauh dariku.
"Mengertilah Al!" kataku.
"Tidak Rose." Matanya terpaku pada sesuatu di belakangku. "Aku akan menemuimu besok lusa."
Aku menoleh kebelakang, Ken berlari kearah kami. Alex telah menjadi sebuah titik yang melompat-lompat diantara pepohonan ketika aku kembali menghadapnya.
Aku memegang lengan Ken ketika ia lewat disampingku. "Biarkan dia pergi," kataku.
Selasa, 01 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar