"Aku tidak menyukai orang ini," bisikku pada Ken.
"Kau tidak perlu menyukainya Rose, cukup ingat hal penting yang ia katakan." Ken menegakkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan membawa sebuah cawan perak, ia meletakkan cawan itu di meja.
"Bolehkah aku...?" kataku seraya mendekatkan tangan ke cawan itu.
"Tentu saja." Leon mengangguk.
Aku memperhatikan cawan itu, sebuah kalimat terukir disitu. "Le sang de père est le sang de ses enfants" yang berarti darah ayah adalah darah anak-anaknya. Sebuah kalimat yang ambigu menurutku. "Ini milik Abelard?" tanyaku menyela obrolan Ken dan Leon.
"Ya, kakek buyutku yang membuatnya, begitu juga dengan belatimu. Abelard adalah vampir sakit jiwa, dia menciptakan penghancurnya sendiri, dan dia membongkar rahasianya sendiri. Dibalik semua itu, dia sangat ambisius. Dia ingin menciptakan klan vampir terkuat, yang tidak akan menjadi abu karena matahari," jelas Leon.
"Menciptakan penghancur dan membongkar rahasianya?" tanyaku.
"Ya, belati dan cawan perak itu. Coba baca ukiran belatimu!"
"Mereka kembali dengan secawan darah."
"Mereka, para setengah vampir yang telah dimurnikan darahnya. Mereka akan kembali seperti semula dengan secawan darah," ucap Leon.
"Secawan..." aku mengangkat dan memperhatikan cawan perak itu.
"Ya, isilah cawan itu dengan darah ayahmu, dan kau akan mengetahui rahasia pembalikan darah."
Aku menemukannya, aku menemukan cara untuk menolong Alex.
Selasa, 01 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar