Minggu, 06 Februari 2011

Mata Kelabu 4

       Aku membuka mata dan mendapati diriku disebuah ruangan. Aku masih hidup, tidak terluka, dan masih manusia. Aku merasakan jantungku berdetak dalam rongga dada, merasakan pembuluh-pembuluh darahku berdesir. Apa tadi itu, mimpi?
      Aku menarik selimut hingga menutupi hidungku, melirik sekeliling. Ini kamarku, kamar yang kugunakan dirumah keluarga Valerè. Ken, mungkin dia yang membawaku kesini saat aku tertidur.
      Aku bangkit dari tidurku dan berjalan ke meja rias, menatap bayanganku dicermin. Bayanganku, ya itu aku, tidak berubah, berambut hitam sebahu dengan mata kelabu. Ada sesuatu yang berbeda, dahiku kini dihiasi benjolan membiru. Bayangan itu tersenyum geli, aku tersenyum geli.

      Aku mendapati sebuah apel dan secarik kertas di meja, bau manis apel itu membuat perutku berteriak minta di isi.Kertas itu, potret sepasang pria dan wanita yang tersenyum. Aku mengenali wanita itu sebagai ibuku, jauh lebih muda dan bahagia. Lalu pria disampingnya, pria itu seperti Alex, Alex yang lebih dewasa dengan rambut coklat mahoni yang lebih tertata. Tatapan mata pria itu angkuh, namun terlalu menyenangkan untuk bisa dibenci.Aku kembali memandang cermin, menatap mataku sendiri. Mataku, seperti matanya.
      Foto itu membuatku jijik, mengetahui ada bagian dari diriku yang berasal dari dirinya membuatku jijik."Le sang de père est le sang de ses enfants," gumamku. Jam dinding berdetak-detik, jarum pendeknya menunjuk angka sembilan. Ada hal yang harus kulakukan.

      Aku mengambil satu-satunya benda yang kubawa, sekali lagi membaca ukirannya dan menyelipkannya kedalam jaket.
      "Paman Leon," bisikku seraya membuka pintu kamar paman Leon. Tidak ada orang. Dengan hati-hati aku membuka satu persatu lemari dan laci.
      "Kau mencari ini?" Paman Leon berdiri di ambang pintu dengan membawa cawan peraknya.
      "Ti-tidak." Aku menggeleng.
      "Ambillah!" Ia menyodorkan cawan itu padaku.
      "Ta-tapi paman..."
      Ia menggeleng. "Aku mengerti Rose, kau ingin pergi ketempat Abelard. Ambil ini dan pergilah!"

0 komentar:

Posting Komentar