Aku duduk di rerumputan, merasakan rumput-rumput itu menggelitik telapak kakiku, menggenggam sebuah apel dan memandang Ken dari sudut mata.
Ken tengah duduk disampingku, berdiam diri. Sejenak aku biarkan ia berkutat seorang diri dalam ruang-ruang pikirannya. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Ken," panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Aku memain-mainkan apel pemberian Ken.
"Tidak ada."
"Aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku. Kepalaku terasa begitu berat, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan rahasia pembalikan.
"Tentu Rosie," katanya.
"Kau pernah bertemu Abelard?" tanyaku.
Ia mengangguk.
"Kalau ibuku?" tanyaku kemudian.
Ia kembali mengangguk.
"Menurutmu, mana yang lebih mirip denganku?" Aku menoleh padanya.
Ken memandangku, sejenak terdiam. "Kau lebih mirip ibumu, mirip sekali," katanya.
"Syukurlah!" Aku menghela napas dan menjatuhkan kepala ke bahu Ken.
"Tapi, matamu... matamu seperti mata Abelard," katanya.
"Aku tidak tahu seperti apa dia," kataku.
"Kau akan segera tahu Rose, namun beberapa orang bahkan berharap tidak pernah mengenalnya..."
***
Aku menatap sebuah persegi, persegi besar, cermin. Bayanganku bermata kelabu, ia tersenyum saat aku tersenyum. Lalu rambut hitam bayangan itu berubah menjadi coklat mahoni, memendek seolah terhisap kedalam kepala.
Segala bentuk tubuh bayangan itu berubah, namun mata kelabunya tidak, seolah segala perubahan berpusat di dua titik itu. Bayangan itu tersenyum. Aku mengangkat tangan, menyentuh cermin itu. "Alex," bisikku.Bayangan itu mengankat tangan, kemudian menyentuh cermin di seberang tanganku menyentuhnya.
Tiba-tiba senyuman di wajah bayangan itu berubah menjadi seringai menakutkan, tangannya keluar menembus cermin dan dengan cepat mencengkram leherku.
"Mon fille," katanya.
"A-abelard?" Mataku membelalak.
Ken tengah duduk disampingku, berdiam diri. Sejenak aku biarkan ia berkutat seorang diri dalam ruang-ruang pikirannya. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Ken," panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Aku memain-mainkan apel pemberian Ken.
"Tidak ada."
"Aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku. Kepalaku terasa begitu berat, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan rahasia pembalikan.
"Tentu Rosie," katanya.
"Kau pernah bertemu Abelard?" tanyaku.
Ia mengangguk.
"Kalau ibuku?" tanyaku kemudian.
Ia kembali mengangguk.
"Menurutmu, mana yang lebih mirip denganku?" Aku menoleh padanya.
Ken memandangku, sejenak terdiam. "Kau lebih mirip ibumu, mirip sekali," katanya.
"Syukurlah!" Aku menghela napas dan menjatuhkan kepala ke bahu Ken.
"Tapi, matamu... matamu seperti mata Abelard," katanya.
"Aku tidak tahu seperti apa dia," kataku.
"Kau akan segera tahu Rose, namun beberapa orang bahkan berharap tidak pernah mengenalnya..."
***
Aku menatap sebuah persegi, persegi besar, cermin. Bayanganku bermata kelabu, ia tersenyum saat aku tersenyum. Lalu rambut hitam bayangan itu berubah menjadi coklat mahoni, memendek seolah terhisap kedalam kepala.
Segala bentuk tubuh bayangan itu berubah, namun mata kelabunya tidak, seolah segala perubahan berpusat di dua titik itu. Bayangan itu tersenyum. Aku mengangkat tangan, menyentuh cermin itu. "Alex," bisikku.Bayangan itu mengankat tangan, kemudian menyentuh cermin di seberang tanganku menyentuhnya.
Tiba-tiba senyuman di wajah bayangan itu berubah menjadi seringai menakutkan, tangannya keluar menembus cermin dan dengan cepat mencengkram leherku.
"Mon fille," katanya.
"A-abelard?" Mataku membelalak.


0 komentar:
Posting Komentar