Minggu, 06 Februari 2011

Mata Kelabu 2

       Titik-titik embun menempel pada kelopak-kelopak Daisy dan daun-daun Cemara, udara menyeruakkan bau pagi yang terkecap di lidah. Aku memerlukan waktu untuk sendiri, untuk memikirkan peristiwa yang telah kulalui dan berusaha untuk mempercayai bahwa itu benar-benar terjadi. Bayangan Alex seolah tidak rela membiarkan rongga-rongga kepalaku kosong, ia selalu hadir dan memenuhinya, Alex tertawa, Alex meringis, Alex dengan wajah berdarah, dan rasa di jari-jariku saat menyentuh bekas lukanya.
      Belakangan, bayangan ayah dan Rafi pun tak mau ketinggalan, mereka bertiga menyesaki rongga kepalaku, membuatku merasa bersalah dan mual. Lalu, bayangan mereka memudar dan digantikan bayangan Abelard, namun bayangan Abelard tidaklah terlihat sebagai sosok manusia, hanya sebersit rasa benci, kengerian, dan kewajiban yang membebani.

      Aku menghela napas, melangkah mengelilingi halaman belakang rumah keluarga Valerè. Halaman belakang itu dipenuhi pohon buah, matang dan menggiurkan, namun tak terlalu menarik selera para Valeré. Aku menengadah, mengamati buah-buah apel matang yang bergelantungan.
      "Kau menginginkanya?" tanya sebuah suara di belakangku.
      Aku menoleh. "Alex, apa yang kalu lakukan pagi-pagi begini?"
      Ia mengernyit. "Kau memanggilku siapa?"
      Aku tersentak."Maaf Ken," kataku.
      Ia tersenyum. "Tidak apa-apa Rose," ujarnya seraya mendekati pohon apel di depanku. Dengan gerakan hampir tak terlihat, ia memanjat pohon itu dan duduk di dahannya. "Aku tahu dia sahabatmu. Maksudku... kakakmu," katanya.
      "Terima kasih Ken," ucapku.
      "TANGKAP!" teriaknya. Sebuah apel meluncur dengan cepat dan menghantam dahiku. Aku terhuyung.Ken melompat turun dari pohon apel dan berjalan menhampiriku. "Kau tidak apa-apa Rose? Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukaimu," katanya.
      "Tidak apa-apa Ken." Aku memungut apel yang tergeletak di rerumputan dan berusaha berdiri tegak. "Terima kasih," kataku. Aku merasakan sebuah benjolan di dahiku dan segera menutupinya dengan rambut.

0 komentar:

Posting Komentar